Senin, 28 Februari 2011

Aku Ingin Mencintai dan Di Cintai Secara Halal

25 Robbi'ul Awal 1432/ 28 Pebruari 2011
By. LN

Astagfirullohal'adzim.... Astagfirullohal'adzim... Astagrirullohal'adzim......
Aku Berlindung pada-Mu Wahai RObb.. pemilik Hati dan Rasa....
Aku berlindung Pada_Mu ya Robb... dari kekotoran Hati dan Prasangka dari makhluk-makhluk_Mu

Aku bersimpuh dihadapan_Mu dalam kelemahanku....

Aku memiliki CInta Karena Kau Yang Mengajariku dalam Firman_Mu
dan kau tunjukan itu dalam dekapan seorang ibu dan hangatnya pelukan keluarga dengan leader seorang Ayah...
Aku belajar dan memahami arti hidup karena Kau yang menuntunku dalam setiap ke_alfa_an ku....
Aku bersyukur karena terlahir dari keluarga  muslim yang telah lebih dulu mengenal_Mu..

Antara Cinta dan Halal... (mmmmmm......... satu kalimat yang lebih mirip dengan judul sinetron)
tapi memang inilah yang ingin aku tulis... tak mengerti apa yang ingin aku tulis tapi aku menulis mengikuti jemari yang menari diatas keyboard.
meski tulisanku tak seindah puisi khalil Gibran, tak seromantis cerpen asma nadia. tapi aku akan tetap mencoba menulis.

Dalamnya lautan masih bisa kita selami
tapi dalamnya hati seseorang sapa yang bisa memahami terkecuali Sang Pemilik Hati (Alloh the Great)

Setiap Insan memiliki hati dan perasaan serta impian...
begitupun dengan aku tanpa terkecuali...
ingin melukis sebuah masa depan...
aku memiliki Impian untuk membina sebuah keluarga besar....(aku memang suka keramaian)
Banyak keceriaan dan kebahagiaan yang terpancar dari setiap wajah-wajah manis dan elok penuh ketaqwaan...
dan sama halnya seperti kebanyakan seorang gadis... akupun menantikan seorang pangeran impian...
dan Inilah yang sekarang  sedang aku jaga......
"P A N G E R A N"... satu kata yang sdikit lucu bila terdengar....
Siapakah Pangeran itu......??????/
apakah dia membawa kuda putih......????????
ataukah membawa BMW putih.......??????? ( ah.......... g penting........)
yang penting dia membawa hati yang putih.......
seperti apakah hati yang putih..........???????????
apakah hati yang di Cat Putih.............??????///
mmmmmmmmmmmm......... entahlah..... karena masalah hati hanya akan terjawab oleh hati....

karena aku yakin... aku diciptakan oleh Rabb_ku untuk mendampingi seorang hamba yang mencintai_Nya...... dan aku menjadi bagian dr rusuknya... (so Sweet Banget ya.....)
dan selama panantian itu aku tetaplah milik kedua orangtua_ku seutuhnya (jiwa Raga)....

Sesungguhnya aku sedih.... bila dalam penantianku...
ada pihak2 yang salah mengartikan sikapku......
ada pihak2 yang keliru dengan caraku..
ada pihak yang tertipu denganku
ada pihak yang terkotori hatinya oleh ku...
dan banyak pihak yang tak mengenal aku...
Astagfirullohal'adzim.....

siapalah aku... dalam sekian ribu hamba Alloh yang baik dan solihah...
Aku baik... itu pun kata keluargaku...
Aku cantik... itu pun kata kaca didepanku...(narsis.com)
aku... A
aku... B
Aku....C
itu kata orang2 yang telah mengenal aku dan tak ingin melihatku kecewa & terluka....
dan aku memang tidak begitu suka dengan sebuah pujian apalagi berlebihan.... (bagiku Pujian itu hanya u/ Robb-ku)
hanya orang2 yang halal bagiku dan mengerti serta mengenalku dengan baik yang boleh memujiku.... (bagi yg telah  mengenal & mengerti aku tak akan ada kata pujian untukku.... hehehehehe..... )

title "aku ingin mencintai dan dicintai secara halal" Maksudnya apa ya..........????
mmmmmm..... apa.... apa... apa.... apa............ (memutar otak)

dan akhirnya terpeleset pada sebuah cerita jual beli ala sinetron : sperti halnya ketika kita ingin memiliki sebuah barang "berharga"....

ketika aku tertarik & menginginkan sebuah barang "berharga" yang terpajang di pertokoan...
hal yang akan aku lakukan adalah : 1. mencari informasi ttg apa, bagaimana, kenapa, siapa, bla.. bala.. bala...
2.mendekati pemilik tokonya dan kembali menggali informasi... sampai akhirnya tau apakah sudah terjual, ada yg pesan atau masih sale......bla.. bala... bala...
3.meminta pendapat teman dan orang2 yg dipercaya....
4.yakin dengan informasi yang ada..... maka putuskan untuk membeli atau mundur dan hanya sekedar melihat dari kejauhan....
5. dan bila sudah mantap,  ijab-kabul dengan pemilik toko maka akan  halal menjadi milik pribadi, dipuji segombal apapun.. toh sudah menjadi milik sendiri....

ini adalah tulisan teraneh yang pernah ditulis dan muah2an yg membaca tidak ikut2an aneh........
senyuman..... kerutan alis.... cibiran.... gelengan... apapun reaksinya.... dua Jempol untuk anda,,,,

Senin, 21 Februari 2011

MEMAKNAI TA'ARUF

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"(QS.49:13)


BELAKANGAN ini ta’aruf mengalami penyempitan makna. Bahkan dalam praktiknya, banyak yang mengidentikkan ta’aruf dengan pacaran. Salah satu penyebabnya adalah maraknya ta’aruf yang dilakukan oleh para ikhwan maupun akhwat di dunia maya. Padahal, sejatinya yang mereka lakukan itu adalah pacaran berkedok ta’aruf, karena dalam aksinya, tiada lagi hijab dalam interaksi bagi akhwat dan ikhwan bukan mahram, seakan bebas landas, curhat di jejaring sosial facebook, hujat-hujatan. Itulah pacaran terselubung dengan membawa topeng ta’aruf.

Ikhwan-ikhwan yang menggunakan profil islami tak pernah kehabisan ide dalam melegalkan pacaran. Jika orang-orang yang tidak membawa agama berani terang-terangan mengatakan pacaran, tapi tidak dengan pemuda pemudi yang berciri khas agama, mereka berpacaran dengan embel-embel ta’aruf.

Entah apa yang ada di benak mereka, apakah ta’aruf dipahami sesuai syariat atau sengaja menyelewengkan dari makna yang sebenarnya, banyak ikhwan dengan mudahnya mengatakan ingin ta’aruf dengan akhwat yang diincarnya melalui dunia maya tanpa perantara pihak ketiga.

Komentar-komentar di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang untuk umum mana yang harusnya dijadikan rahasia dirinya dengan Allah, facebook menjadi keranjang sampah juga menjadi diary bagi sebagian orang. Akhwat dan ikhwan berpacaran pun sudah mulai berani membuat status in relationship dengan pasangan yang disebutnya sedang ta’aruf.

Tak sedikit juga ikhwan genit dan akhwat ganjen saling memberi perhatian di tempat umum. “Sudah shalatkah ukhti? Jangan telat makan ya..” tulis sang ikhwan. Sang akhwat pun tak mau kalah, membalasnya dengan kata-kata senada, “Syukron ya akhi atas perhatiannya, semangat belajar ya.”

Ada pula komentar yang lebih liar, “Eh iya ukhti kelihatan anggun dengan jilbab itu, hehehehe.” Maka si akhwat balik menjawab, “Ah, akhi nih bisa aja, ntar ana GR nih, heeeeee…” Masya Allah, itukah yang disebut ta’aruf?

Dulu penulis banyak menemukan pencerahan di dunia maya dengan banyak berteman, namun jadi ilfil (ilang feeling) setelah mengetahui sepak terjang beberapa ikhwan akhwat, teriaknya agama, tapi murah terhadap lawan jenis, menebar simpati dan basa-basi.

Mereka memakai kedok ta’aruf untuk melegalkan pacaran. Belum ada ikatan apapun sudah berani memanggil “umi-abi” atau “abang-adik.” Tak sedikit pula ditemui akhwat berjilbab lebar yang masih membudidayakan pacaran. Tanpa malu-malu lagi. Apakah semua itu dilakukan karena ketidaktahuan akhwat tentang bagaimana Islam mengatur pergaulan dengan lawan jenis? Wallahu a’lam. Yang pasti ada juga yang biasa berkomentar pacaran haram, tapi dirinya masih juga berpacaran, namun memakai kedok ta’aruf. Padahal praktiknya sami mawon.

Hendaknya benar-benar lurus memahami kata ta’aruf seperti yang diajarkan oleh Nabi kita, jangan sampai menjadikan ta’aruf untuk menghancurkan keagungan Islam. Telah jelas dalam Islam, bagaimana hendaknya kita menjaga diri kita agar tidak terjatuh pada perkara-perkara yang membuat Allah murka. Jangan memakai istilah ta’aruf jika hanya sebatas ingin menjadi uji coba bermain hati.

Hati akhwat biasanya lembut dan mudah tersentuh, korban yang pertama akan merasakan terluka oleh ta’aruf coba-coba tadi tentunya para akhwat. Begitu juga para akhwat, jangan mudah terpedaya pada ikhwan dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya. Apa yang ditampilkan dalam dunia maya, profil, kata-kata, tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai karakter yang sesungguhnya, juga tidak dapat cukup untuk menggambarkan pribadinya secara utuh, tetap waspada. [Yuli Anna Pendamba Surga/voa-islam.com